Sabtu, 31 Oktober 2015

Imanku Mendamaikan Dunia


 BERSYUKUR

"Selama ini kita mendengar pepatah bahwa akal yang selamat itu terdapat pada badan yang sehat, padahal semestinya adalah akal yang selamat hanyalah terdapat pada hati yang sehat. Banyak diantara kita yang memiliki fisik sempurna, tetapi hatinya tidak sesuai dengan fisiknya"

Begitulah sepenggal nasehat yang diberikan Syeikh Ammar Bugis. Beliau adalah seorang ulama Jedah juga seorang penghafal Al-Qur’an yang lahir di Amerika Serikat pada tanggal 22 Oktober 1986. Nama Bugis di ambil dari nama kakeknya yang berasal dari Makassar, Sulawesi yaitu Syeikh Abdul Muthalib. Ia hijrah dari Sulawesi ke Mekkah dan mengajar tafsir di Masjidil Haram.Ia mengalami lumpuh total sejak usia 2 bulan, hanya mata dan mulut yang masih berfungsi hingga sekarang. Cacat yang ia alama tidak membuatnya putus asa/ menyerah untuk hidup yang berarti. Bahkan dokter dari Amerika pun menyampaikan ketika Ammar lahir "Paling sang bayi (Ammar) hanya bisa bertahan hidup hingga usia 8 tahun saja. Namun hingga sekarang beliau masih hidup bahkan sudah menikah. Sejak usia 11 tahun, Ammar telah hafal 30 juz Al-Qur'an dalam waktu 2 tahun. Beliau menuntut ilmu hingga kuliah.

Dari cerita singkat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kita sebagai manusia senantiasa untuk bersyukur apa yang sudah diberikan Allah. Terutama bagi kita yang memiliki fisik sempurna, seharusnya kita lebih bersyukur dan merawat dengan baik semua ciptaan Allah. Karena semua ciptaan Allah itu indah

(78). وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚقَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.  
(Qs. Al Mu'minun : 78 )

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ (152)
Maka ingatlah kepada Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu ,Bersyukurlah kepada    Ku  ,Dan janganlah kamu  ingkar kepada Ku “. ( Qs. Al Baqarah : 152)
 
Masih banyak diantara kita yang masih sebelah mata, cuek, bahkan ada rasa jijik kepada orang cacat. tidak hanaya orang cacat fisik, terkadang juga kepada pengemis dan pengamen/seseorang dari ekonomi kebawah. Banyak-banyaklah berterimakasih dan bersyukur pada Allah.
 
TOLERANSI
 
Tidak hanya bersyukur, kita sebagai sesama manusia ciptaan Allah seharusnya saling toleransi. Baik dari yang sama agamanya maupun yang berebeda agama. Toleransi dalam hal beribadah, sopan santun dan menghormati pada orang yang lebih tua, tidak mengganggu orang disekitar lingkungan kita, saling membantu, tidak mendiskriminasikan kelompok-kelompok dan orang-orang yang berebeda atau minoritas. Al-Qur’an sejak sekitar kurang lebih 1400 telah banyak memberikan gambaran-gambaran yang diajarkan tentang hidup berdampingan dengan antar umat beragama, indikasi tersebut salah satunya bisa di lihat dari Surat al-Mumtahanah 60: 8-9:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” 
(QS. Al Mumtahanah : 8)

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.”  (QS. Al Mumtahanah : 9)
 
KEDAMAIAN & BAHAGIA
 
Apabila kita selalu bersyukur dan bertoleransi kepada Allah maka akan tercipta kedamaian pada diri kita terutama pada hati kita dan hidup bahagia. Harta, ketenaran&status sosial, foya-foya tidak akan memberikan kepuasan karena kita akan merasa kurang kurang dan kurang sehingga kita berupaya untuk selalu meningkat hal tersebut karena merasa tersaingi. Padahal itu semua tidak membuat kita lebih bahagia, hanya senang sesaat.
 
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ 
Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Qs. An anfal : 61)
 
Karena Islam adalah agama damai dan sangat mencintai perdamaian serta menjunjung tinggi persatuan dan persaudaraan. Islam tidak menghendaki peperangan, pembunuhan dan penaklukan. Perbedaan bukan menjadi penghalang kita untuk selalu bersyukur dan bertoleransi.
 

 

 
 
 
78. [1]Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran[2], penglihatan[3], dan hati nurani[4]. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur[5]. - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-muminun-ayat-78-92.html#sthash.ToOfVnAK.dpuf
وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ    (٧٨) - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-muminun-ayat-78-92.html#sthash.ToOfVnAK.dpuf
وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ    (٧٨) - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-muminun-ayat-78-92.html#sthash.ToOfVnAK.dpuf